Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Oktober 2011. Kegiatan jalan santai ini diikuti oleh semua warga sekolah. Jalan santai ini mengambil rute mengelilingi kompleks perumahan disekitar lingkungan sekolah. kegiatan ini dimulai pukul 07.00 WIB tepat. Dan berakhir sekitar pukul 08.30 WIB. setelah itu dilanjutkan kegiatan lomba mewarnai dan lomba menggambar yang diikuti siswa-siswi kelas 1-6.

Kegiatan Jeda Mid Semester ganjil kali ini diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan semua warga sekolah. Kegiatan dilakukan dilingkungan sekolah serta di lingkungan masyarakat bersama-sama SD lain yang masih satu Dabin. Adapun rangkaian kegiatam Mid Semester Ganjil tahun ini adalah sebagai berikut:

1. PERSAMI

kegiatan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) dilakukan pada hari Sabtu – Minggu, 16-17 Oktober 2011 yang diikuti siswa-siswi SD N 11 Ngringo kelas 4-6. Kurang lebih jumlah peserta yang mengikuti acara ini 64 orang. Rangkaian Kegiatan PERSAMI antara lain:

1. Persiapan perkemahan.

2. Upacara Pembuka PERSAMI.

3. Materi Tentang Kepramukaan.

4. BBD (Bersih Bersih Diri)

5. ishoma

6. Kajian Keagamaan.

7. Upacara Api Unggun

8. Pentas Seni.

9. Tidur go to bed.

10. Sholat

11. Senam

12. BBD and Makan pagi /breakfast

13. Outbond/Wide Game

14. ISHOMA

15. Sharing

16. Upacara Penutupan

Itulah rangkaian acara PERSAMI yang dilakukan di hari Sabtu dan Minggu.

 

Wayang. Pertama kali mendengar kata ini pastilah teman-teman membayangkan suatu pertunjukkan dengan bahasa Jawa, dengan cerita Ramayana atau Mahabarata, biasa dimainkan oleh dalang dan ada sinden atau campur sari yang mengiringinya. Wayang adalah salah satu budaya asli Jawa yang perlu kita lestarikan.

Sering kali kita menganggap wayang adalah sesuatu yang membosankan dan kuno , tetapi ternyata wayang yang sarat filosofi ini dapat dikembangkan menjadi media kampanye dan pendidikan lingkungan yang menarik. Pada Kampanye Bangga Konservasi Lereng Selatan gunung Merapi, Yayasan Kanopi Indonesia mengembangkan konsep wayang menjadi salah satu alat untuk mengkampanyekan konservasi kepada anak-anak usia dini. Wayang yang tadinya dibuat dari kulit sapi kini dikembangkan menjadi terbuat dari kardus bekas, sehingga mudah diaplikasikan oleh semua orang termasuk oleh anak-anak.

Saat ini wayang kardus banyak digunakan sebagai media kampanye lingkungan ataupun pendidikan lingkungan. Hal ini disebabkan banyak pesan yang dapat dimasukkan dalam kegiatan ini. Mulai dari pemakaian kardus bekas. Disini kita dapat mengajarkan ke anak bahwa sampah atau barang bekas dapat menjadi media berkarya. Proses pewarnaan juga menjadi media pembelajaran, anak dapat belajar tentang terciptanya warna (selain warna dasar). Salah satu hal penting dalam pementasan wayang adalah cerita. Pada pementasan wayang kardus kita dapat mengangkat berbagai macam tema, tidak hanya terbatas cerita Ramayana atau Mahabarata, bahkan kita dapat membuatnya sendiri. Jadi cerita wayang kardus sifatnya bebas, tidak ada pakem yang harus diikuti. Sering kali untuk kebutuhan pendidikan lingkungan, cerita yang diangkat adalah fabel dengan tema lingkungan.

Cara pembuatan wayang kardus pun sangat mudah. Mau tahu caranya??? Ini dia caranya :

1. Siapkan kardus bekas. Boleh kardus apa saja asalkan tidak terlalu tebal agar mudah dipotong

2. Buat gambar yang diinginkan, tergantung tema yang diangkat

3. Potong gambar yang telah dibuat

4. Gambar kemudian diwarnai sesuai selera, kalau bisa disesuaikan warna objek gambar aslinya

5. Terakhir, beri penyangga gambar sehingga memudahkan untuk dipegang dan digerakkan

Nah caranya cukup mudah kan…Kalau begitu silakan mencoba membuat dan mementaskannya, dengan demikian sedikit banyak kita sudah nguri-uri kabudayan Jawi (mempertahankan budaya Jawa). Selamat mencoba !!!

A.    PERLENGKAPAN PRIBADI

  1. Alat Ibadah (sarung, mukena)
  2. Alat Makan (piring, gelas, sendok)
  3. Baju  dan celana olahraga
  4. Seragam pramuka lengkap(topi, stangan leher, tongkat)
  5. Baju dan celana ganti bebas(2 buah)
  6. Obat pribadi
  7. Perlengkapan MCK
  8. Makanan dan minuman
  9. Sandal
  10. Sepatu
  11. Senter
  12. Kayu (1)
  13. Alat tulis(buku tulis dan bolpoin)
  14. Cocard pramuka

 B.     PERLENGKAPAN REGU

  1. Tongkat (3)
  2. Paku  10 cm(10)
  3. Tali (5)
  4. Tikar (2)
  5. Sunlight dan penggosok
  6. Lilin
  7. Garam (1 bungkus)
KELOMPOK PERSAMI

 

PUTRA

 

 

Kelompok I

  1. Dicky S
  2. Toni Sri Yudatomo
  3. Riski Anjas
  4. Agun Wijanarko
  5. Andhika R
  6. Aditya Y
  7. M. Alif Indra P
  8. Zaki
  9. Royan
  10. AlviaN
  11. Eknu
  12. Pamungkas Aji
  13.  Agus Gunawan

 

Kelompok II

  1. Heru Santoso
  2. Rizan Wahyu W
  3. Ikhsan B. D.C
  4. Agus F
  5. Deny Yadi
  6. Fresga Aria
  7. Nasrul K
  8. Badung
  9. Doni
  10. Anung W
  11. Mahesa Paksi
  12. Reza

 

 

Kelompok III

  1. Dedi Setiawan
  2. Doni Setiawan
  3. Audri Rama R
  4. Fito Dwi S
  5. Fauzi
  6. Mohammad Alif
  7. Wahyu
  8. Taufik
  9. Artoya Adi
  10. Choirul
  11. Musthofa
  12. Ridho

 

 

 

PUTRI

 

 

Kelompok I

  1. Ayu Purnamasari
  2. Hani Kumalasari
  3. Ilma Yuftika Anisa
  4. Jesika Puspita
  5. Latifah Amalia
  6. Esti
  7. Hanifah
  8. Lia
  9.  Aning

 

 

 

Kelompok II

  1. Melina Saftriana
  2. Melda Ayu
  3. Dewi Wulansari
  4. Lisa Kartika
  5. Novi Panca W
  6. Resti Apriliana
  7. Anik
  8. Novita
  9. Sonia

 

 

 

Kelompok III

  1. Wahyu Azhari
  2. Wuri Kusuma
  3. Rosita Puspita
  4. Sevista
  5. Nasrun Azizah
  6. Intan
  7. Retno
  8. Safira
  9. Clarisa

 


 A.    PERLENGKAPAN PRIBADI

  1. Alat Ibadah
  2. Alat Makan
  3. Baju  dan celana olahraga
  4. Seragam pramuka lengkap
  5. Baju dan celana ganti bebas
  6. Obat pribadi
  7. Perlengkapan MCK
  8. Makanan dan minuman
  9. Beras 3 gelas
  10. Sandal
  11. Senter
  12. Kayu (1)
  13. Mie goreng 2
  14. Alat tulis
  15. Cocard pramuka


 B.     PERLENGKAPAN REGU

 

  1. Tongkat (3)
  2. Pathok (10)
  3. Tali (5)
  4. Tikar (2)
  5. Sunlight dan penggosok
  6. Lilin
  7. Garam (1 bungkus)

NB : Beras dan Mie dilkumpulkan paling lambat Kamis, 13 Okt 2011 ke Bu Ina.

Info lebih lanjut dapat dilihat di http://sd11ngringo.ppl.fkip.uns.ac.id/”

Dalam rangka mengisi kegiatan jeda mid semester yang pertama lini kami anak2 PPL mengadakan kegiatan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) bagi anak2 SD N 11 NGRINGO. Kegiatan ini kami buat dengan tujuan:
Membentuk karakter siswa-siswi SD N 11 Ngringo.
Mencipkan suasana kekeluargaan antara siswa, guru, serta semua keluarga SD N 11 Ngringo
Menambah pengalaman dan pengetahuan siswa dalam bidang kepramukaan.
WAKTU PELAKSANAAN

Hari/Tanggal         : Sabtu-Minggu, 15-16 Oktober 2011
Waktu                       : 13.00 – selesai
Tempat                    : SD N 11 Ngringo
A.    PESERTA KEGIATAN
Kegiatan ini di ikuti oleh siswa-siswi kelas IV-VI SD N 11 Ngringo dengan rincian:
Kelas IV                      : 23 orang
Kelas V                       : 22 orang
Kelas VI                      : 19 orang
Jumlah                         : 64 orang

SUSUNAN PANITIA

Pelindung        : Sri Untoro, S.Pd

Ketua              : Eko Susanto

Sekretaris        : Ika Puji Lestari

Bendahara       : Giyarni

 

Sie-Sie             :

Korlap                       : 1. Giyarni

2. Eko Susanto

Konsumsi              : 1. Ina Nurjanah

2. Nurul Huda

Dokumentasi         : Suci Wulandari

Hadiah                     : Ika Puji Lestari

P3K                           : 1. Ika Puji Lestari

2. Suci Wulandari

Perlengkapan         : 1. Eko Susanto

2. Aji

Humas                     : 1. Ina Nurjanah

2. Eko Susanto

Pembantu Umum  : 1. Rahmat

2. Edi Harianto

3. Muhammad Zainal Arifin

Publik di wilayah Sakada, Tokyo, digemparkan oleh penemuan amplop berisikan uang sebesar 10 juta yen atau sekitar Rp1,1 miliar di sebuah sebuah toilet umum, Kamis 29 September 2011. Ternyata uang itu memang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya untuk disumbangkan kepada korban gempa dan tsunami yang menghantam Maret lalu.

Berbicara keikhlasan, mungkin ini adalah bentuk keikhlasan model baru. Pasalnya, si penyumbang tidak menyebutkan namanya dan meninggalkannya begitu saja, hanya berpesan pada secarik surat. “Saya tinggal sendirian dan tidak butuh uang ini,” isi surat tersebut, dilansir dari BBC. Dalam bait lainnya, dia mengatakan agar sumbangan ini diberikan ke korban bencana.

Bisa disebut ini adalah bentuk sumbangan anonim, dimana penyumbangnya tidak menyebutkan identitas. Kalau di Indonesia, biasanya si penyumbang pakai nama “hamba Tuhan”. Pemberian sumbangan model begini merupakan pertaruhan yang besar. Bukan tidak mungkin uang tersebut malah masuk ke kantong si penemu.

Ternyata tidak. Si penyumbang sepertinya tau benar tabiat warga Jepang yang mengembalikan barang  yang bukan miliknya. Amplop berisi uang ini akhirnya berlabuh di kantor polisi. Jika sampai tiga bulan tidak ada yang mengakuinya, polisi akan memberikannya ke Palang Merah Jepang untuk diserahkan kepada korban gempa.

Model pemberian unik dan membutuhkan nyali yang tinggi ini bukan kali pertama terjadi di Jepang. BBC menuliskan, sebelumnya pada tahun 2007, ditemukan 400 amplop masing-masing berisikan cek senilai 10 ribu yen (Rp1,1 juta) yang diletakkan di toilet-toilet di seluruh Jepang. Pada tahun itu juga, sekitar 18 warga Tokyo dikejutkan oleh amplop berisi 1,8 juta (Rp210 juta) yang dimasukkan ke kotak pos mereka.

Sebelumnya, uang 1 juta yen (Rp116 juta) disebarkan dari atas sebuah apartemen di Tokyo. Bukannya mengantongi uang tersebut dan dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari, warga Jepang memungutnya dan memberikannya ke kantor polisi, untuk dicarikan pemiliknya. Luar Biasa.

Uang Korban Tsunami

Seorang warga dilaporkan menemukan selembar cek senilai US$40.000 (Rp359 juta) di antara reruntuhan tsunami. Seorang wanita menemukan uang yen senilai US$26000 (Rp233 juta), juga di antara puing-puing. Cek senilai US$1,3 juta (Rp11,6 miliar) ditemukan di dalam brankas yang terseret arus. Warga-warga lainnya juga menemukan uang-uang yang terserak di dalam dompet, kantong belanja, dan laci-laci rumah.

Para penemu ini adalah para korban tsunami yang hidup dalam keterbatasan di penampungan. Mereka kehilangan tempat tinggal, kekurangan makanan, dan masih abu-abu nasib mereka berikutnya. Namun, itu tidak membuat mereka gelap mata. Semua temuan tersebut diserahkan ke kantor polisi, tinggal polisi yang kini kewalahan mencari siapa empunya harta.

“Mereka bilang kepada saya, hanya ingin uang ini kembali ke pemiliknya,” kata Kouetsu Saiki, petugas polisi di prefektur Miyagi yang bertugas mengumpulkan, melacak dan mengembalikan barang temuan, dilansir dari Los Angeles Times, Rabu 28 September 2011.

Kepolisian di tiga prefektur di Jepang yang terkena bencana tsunami berhasil mengumpulkan uang temuan warga senilai US$78 juta atau setara dengan Rp700 miliar. Menurut hukum di Jepang, jika dalam tiga bulan tidak ditemukan pemiliknya, maka akan diberikan kepada lembaga bantuan atau kepada penemu uang tersebut.

Namun yang mengejutkan adalah, kebanyakan para penemu memilih untuk tidak mengambil jatah mereka dan menyerahkannya kepada polisi. “Setiap orang ingin membantu sesama dengan cara yang mereka bisa,” kata Saiki.

Salah satu kisah yang paling mengharukan menurut Saiki adalah ketika mereka menemukan sebuah brankas milik bos di sebuah perusahaan. Bukannya mengambil uang yang memang miliknya tersebut, bos ini malah membagikan semua isi brankas kepada para karyawannya.

“Dia sangat bersyukur uangnya kembali. Dia tidak menyimpannya, tapi membagikannya kepada para karyawan beserta keluarga mereka. Ini bukan lagi soal keuntungan pribadi. Setiap orang menderita akibat tsunami,” jelas Saiki.

Sejauh ini, telah ditemukan 5.700 brankas yang tertimbun di antara puing. Saiki mengatakan, sebanyak US$500.000 (Rp4,4 miliar) dari keseluruhan US$30 juta (Rp269 juta) uang di dalam brankas telah dikembalikan ke pemiliknya.

Empat Prinsip Moral Jepang

Kepribadian dan karakter moral rakyat Jepang dibentuk sedari mereka kecil. Prinsip moral yang mereka anut berasal dari kebudayaan samurai Jepang yang terdiri dari empat elemen moral, yaitu On, Gimu, Giri dan Ninj?.

Menurut staf kebudayaan dari Japan Foundation Indonesia, Hashimoto Ayumi, saat dihubungi VIVAnews, keempat unsur ini tidak diajarkan di bangku sekolah. Namun, secara otomatis didapat dari orang tua maupun masyarakat sekitar.

On, berarti rasa hutang budi. Dengan prinsip ini, seseorang akan merasa berutang setiap kali orang lain berbuat baik padanya. “Jika seseorang berbuat baik kepada kita, maka kita merasa harus membalas kebaikannya tersebut,” kata Hashimoto.

Gimu, berarti kewajiban. Jika seseorang berhutang budi, maka kita akan berkewajiban untuk membayarnya. Giri, adalah kebaikan. Dengan prinsip ini, seseorang akan membantu temannya atau keluarganya semampunya. “Jika kita mempunya teman dekat dan dia butuh pertolongan, maka kita akan membantunya dengan cara apapun,” kata Hashimoto.

Ninjo, adalah rasa kasih sayang. Prinsip ini mengajarkan rasa empati terhadap sesama. Dengan prinsip ini, seseorang akan merasa semua manusia adalah satu dan sama, di bawah perbedaan yang telah diatur oleh karma.

Wartawan media Jepang Jiji Press, Masakatsu Ishii, mengatakan bahwa empat unsur ini adalah semacam kewajiban sosial yang harus dimiliki oleh setiap rakyat Jepang. Masakatsu menjelaskan bahwa sekolah dasar di Jepang tidak mengajarkan pelajaran agama, hanya pelajaran moral satu jam setiap minggunya.

Kendati demikian, empat prinsip moral tersebut terbentuk di lingkungan sekitar seorang anak. “Konsep ini memang tidak diajarkan di sekolah, namun diterima dan dipraktekkan langsung dari lingkungan,” kata Masakatsu. (sj)

sumber: VIVAnews.com

Senin 19 September 2011

Sebuah peristiwa penting yang tidak terlupakan. Ditengah-tengah upacara bendera terdapat peristiwa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Peristiwa tersebut adalah perpisahan kepala sekolah lama yaitu ibu Sri Isro’ Ilyah, S. Pd, serta penyabutan kepala sekolah baru SD N 11 Ngringo bapak Sri Untoro, S. Pd. Salam perpisahan dari ibu kepala sekolah begitu bermakna bgi semua keluarga besar SD N 11 Ngringo. Beliau berpesan agar anak-anak lebih giat belajar serta taat pada bapak dan ibu guru. Selain itu beliau mengucapkan permintaan maaf kepada semua keluarga besar SD N 11 Ngringo.

Selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Sri Untoro, S. Pd. Selaku Kepala Sekolah yang baru, semoga dengan kehadiran bapak dapat melanjutkan perjuangan yang sudah terrlaksana serta mampu meningkatkan prestasi belajar anak-anak baik di sekolah dan di luar sekolah. Amin . . . . . . . . . .